Selama hampir satu bulan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Sisdamas) UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Kota Banjar, yang melibatkan sekitar 1.050 mahasiswa, mendapat beragam tanggapan dari berbagai pihak kampus, soal kondisi Kota Banjar maupun pihak desa/kelurahan yang menjadi lokasi para mahasiswa melaksanakan kegiatannya.

Ridwan Eko Prasetyo, salah satu Dosen Pembimbing Lapangan KKN Sisdamas UIN SGD Bandung, mengatakan, dalam menjalankan kegiatannya di wilayah Kota Banjar, para mahasiswa melakukan berbagai hal untuk belajar bersama masyarakat, dengan bekal ilmu yang dimiliki mahasiswa dari berbagai latar belakang jurusan.

“Kita datang ke Banjar bertujuan untuk belajar bersama masyarakat agar bisa mengembangkan apa yang sudah ada di tengah-tengah masyarakat. Artinya, mahasiswa datang dengan berbagai bidang ilmu yang mereka miliki dan mengaktualisasikannya. Jadi kita bersama masyarakat mengembangkan kegiatan yang sudah berjalan,” terang Ridwan, kepada Koran HR, Rabu (08/03/2017) lalu.

Dengan keberadaan UIN SGD Bandung datang ke Kota Banjar, lanjut Ridwan, ada salah satu kerjasama yang sangat penting untuk para pelajar dari Kota Banjar, yakni berupa beasiswa bagi pelajar SMA sederajat yang hafal Al Qur’an 10 juz.

Bahkan, pihak Pemkot Banjar dengan UIN SGD Bandung sudah berkomitmen untuk menjalankan komitmen tersebut. Jadi, bila ada yang memenuhi kriteria tinggal masuk dan kuliah di UIN SGD Bandung dengan mudah.

Menurut Ridwan, kesan pertama datang ke Kota Banjar adalah suasananya yang panas dibanding dengan Bandung. Meski begitu, ia menilai Kota Banjar merupakan daerah yang sangat rapi dalam pembangunannya dibandingkan dengan daerah lain.

“Sangat luar biasa sekali Kota Banjar itu. Daerah yang kecil ini bisa dengan begitu masifnya membangun semua bidang dengan begitu rapih,” kata Ridwan.

Sementara itu, Khoerudin, Ketua KKN Sisdamas UIN wilayah Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, mengatakan, di lokasi ia bersama teman-teman belajar dengan masyarakat merasa prihatin dengan informasi wilayah Langensari. Karena, jumlah kasus perbuatan asusila di wilayah tersebut cukup tinggi.

Untuk itu, ia bersama kelompoknya selain melakukan sosialisasi agar permaslaahan tersebut bisa diminimalisir, juga menggelar kegiatan supaya kesadaran moral masyarakat dapat meningkat.

“Setelah kami berkomunikasi dengan pihak Puskesmas, kami terkejut dengan data yang mereka tujukan kepada kami, baik pengidap HIV/AIDS ataupun kasus asusila yang terjadi. Makanya kami mencoba menyasar segmen para pelajar untuk bersama-bersama mewaspadai, serta menghindari hal-hal yang menyebabkan perbuatan asusila, seperti narkoba maupun minuman keras,” tutur Khoerudin.

Hadi, salah satu peserta KKN di wilayah Desa Sukamukti, Kecamatan Pataruman, justru melihat Kota Banjar dari sisi pariwisata yang kini tengah terus digenjot oleh pemerintah. Ia menilai, seperti halnya Curug Panganten di Desa Sukamukti merupakan salah satu destinasi wisata yang perlu dikembangkan lagi agar pengunjungnya semakin banyak.

“Kami membantu pemerintah desa mempromosikan potensi yang ada di desa dengan berbagai cara. Seperti halnya pembuatan video profil wisata yang ada di Desa Sukamukti. Selain itu, kami juga nanti akan menyampaikan kepada teman-teman maupun ke pihak kampus. Jadi ini merupakan bentuk promosi yang kami lakukan,” kata Hadi. (Muhafid/Koran HR)

Sumber : Berita Banjar, harapanrakyat.com

Leave a Comment